Jumat, 09 Januari 2009

DELETE DIKOTOMI

Seperti kita maklumi bahwa sistem pendidikan yang diterima masyarakat kita, dari zaman penjajahan sampai sekarang ini ialah sistem pendidikan yang dikotomik ; pedidikan agama di satu pihak dan pendidikan umum di pihak lainnya. Akibatnya peserta didik mempersepsikan bahwa ilmu agama (Islam-Red) itu hanyalah sebatas bagaimana yang diajarkan di madrasah atau apa yang mereka peroleh di sekolah umum dengan porsi waktu yang dua jam perminggu itu. Dengan persepsi demikian, seolah-olah pelajaran fisika, kimia, biologi, ekonomi, olah raga dan lain-lain bukanlah ilmu-ilmu islami dan tidak punya sentuhan langsung dengan umat Islam dan Al Qur'an.

Padahal, jika kita telusuri sejarah peradaban, maka akan kita temukan, betapa ilmuwan-ilmuwan muslim telah menjadi pelopor dalam penyusunan berbagai ilmu pengetahuan. Ini terjadi karena Al Qur'an memuat banyak sekali isyarat-isyarat keilmuan.

Jadi sudah tiba masanya kita menyadarkan peserta didik dan masyarakat pada umumnya, bahwa semua ilmu yang bermanfaat bagi kemajuan umat manusia di dunia dan mengantarkan kepada keselamatannya dia akhirat , tergolong kepada ilmu-ilmu yang mempelajari ayat-ayat Allah SWT. Jelasnya ketika orang mempelajari ilmu tauhid, ilmu fikih, ilmu akhlak, berarti ia mempelajari ayat-ayat Allah yang qauliyah. Sedangkan ketika ia mempelajari ilmu pengetahuan alam atau ilmu pengetahuan sosial, berarti ia sedang mempelajari ayat-ayat Allah yang kauniyah.